Teknik Wawancara Dalam Penelitian Kualitatif

Teknik Wawancara Dalam Penelitian Kualitatif

Pada pelaksanaan penelitian kualitatif, pihak peneliti bertindak sekaligus sebagai instrumen itu sendiri. Runtuhnya, dengan memaksimalkan sepasang telinga, Sepasang Mata serta keahliannya dalam berkomunikasi, sang peneliti akan memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan berdasarkan tujuan dari pelaksanaan penelitian. Adapun Salah satu teknik guna memperoleh informasi dan data yang nantinya akan diolah yaitu dengan melaksanakan wawancara.

Teknik Wawancara Dalam Penelitian Kualitatif

Menurut Aileen Bloomer tahun 2012 dan Alison Wray di dalam bukunya yang berjudul Project in linguistics and language studies, wawancara merupakan suatu pertemuan antara dua orang, yakni informan dan penelitian di mana pihak peneliti akan memberikan pertanyaan secara lisan kepada pihak informan serta merekam hasilnya di dalam bentuk rekaman audio maupun tulisan, di mana berikutnya ditranskripsi untuk dilakukan analisa. Wawancara tentunya bisa dipakai untuk triangulasi, tentunya guna memperoleh dimensi yang berlainan dari fenomena yang berbeda. Wawancara juga bisa dikatakan sebuah angket yang berbentuk lisan.

Berikan pertanyaan pada wawancara seharusnya telah dipersiapkan oleh pihak peneliti terlebih dahulu, akan tetapi ketika wawancara dapat ditambahkan, dihilangkan atau diubah. Alwasilah di tahun 2008 menerangkan bahwasannya supaya pihak peneliti memperoleh informasi dan data yang dibutuhkan, wawancara harus menggunakan pedoman pada beberapa hal sebagai berikut:

  1. Pertanyaan yang tuntas
  2. Pengalihan transkripsi atau tuturan secepat mungkin
  3. Pewaktu and yang baik
  4. Narasumber atau informan yang tepat
  5. Pertanyaan berdasarkan topik
  6. Topik yang pasti

Ada pula pelaksanaan wawancara yang dilakukan bersama beberapa orang sekaligus justru akan lebih baik, hal tersebut disebabkan oleh sejumlah alasan, di antaranya adalah:

  1. Narasumber atau informan tentunya bisa saling melengkapi, sehingga sejumlah topik pertanyaan bisa tuntas dalam satu kali pertemuan
  2. Narasumber atau informan terdorong untuk bisa memberikan jawaban
  3. Narasumber atau informan tidak akan merasa terintimidasi dan merasa lebih nyaman jika teman yang lain ketika sedang dilakukan wawancara

Persiapan persiapan wawancara

Terdapat 5 bagian penting yang wajib diperhatikan pihak peneliti Sebelum melaksanakan wawancara. Hal tersebut sudah dijelaskan oleh Alwasilah di tahun 2008 di mana mengutip Taylor & Bogdan tahun 1984, yakni sebagai berikut:

  1. Informasi yang berhasil dikumpulkan oleh pihak peneliti wajib sesuai dengan tujuan pelaksanaan penelitian yang telah digambarkan di dalam latar belakang penelitian. Wawancara bisa dikatakan sebagai kegiatan bertanya guna mendapatkan informasi atau jawaban yang bersumber dari informan mengenai nilai-nilai, keyakinan, pengalaman,, dan pikiran serta perasaan informan yang sesuai dengan tujuan pelaksanaan penelitian.
  2. Adapun kode etik penelitian berguna untuk melindungi pihak informan dengan langkah menyamarkan nama informan, bahkan sama sekali tidak menyebutkan, namun diganti dengan simbol atau kode tertentu.
  3. Pihak peneliti wajib menentukan kriteria atau kualifikasi pihak informan yang hendak diwawancarai. Kualifikasi informan yang dipilih contohnya dikarenakan mempunyai keistimewaan pada sisi pengetahuan, posisinya, kemampuan berkomunikasi, atau pengalaman khusus lainnya yang bisa membantu pihak peneliti di dalam mengumpulkan data dan informasi untuk menjawab berbagai macam pertanyaan pihak peneliti.
  4. Adanya pemberian penghargaan, baik itu berupa uang maupun hadiah barang yang nantinya diberikan kepada informan penelitian yang bisa dilakukan, sebab informan tersebut sudah meluangkan waktunya untuk kegiatan penelitian
  5. Perencanaan yang berhubungan dengan tempat wawancara, waktu yang pas untuk pelaksanaan wawancara serta berapa kalikah wawancara tersebut akan dikerjakan

Adapun kelima bagian yang telah dijabarkan di atas, yakni frekuensi wawancara, perencanaan lokasi, adanya pemberian penghargaan kepada informan, kualifikasi di dalam memilih informan, kode etik penelitian serta tujuan penelitian wajib untuk diuraikan pada bagian metodologi penelitian.

Beberapa jenis pertanyaan di dalam wawancara

Berdasarkan fungsinya, Terdapat tiga jenis pertanyaan yang bisa diajukan ke pihak informan, yakni:

  1. Pertanyaan pengantar dimana bertujuan supaya ada rasa saling yakin di antara satu dengan yang lainnya, di antara pihak informan dengan peneliti. Misalnya adalah “Sudah berapa lama kah anda bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi tersebut?”
  2. Pertanyaan umum, misalnya adalah “Bagaimanakah pendapat anda mengenai keterampilan menyimak para mahasiswa bimbingan anda?”
  3. Pertanyaan yang menukik ke berbagai macam hal khusus yang berkaitan dengan tujuan pelaksanaan penelitian

Berdasarkan jenis informasi yang hendak ditanyakan, Terdapat 6 jenis pertanyaan, diantaranya adalah:

  1. Pertanyaan tentang perilaku atau pengalaman. Pertanyaan tersebut berguna untuk menggali secara rincitidak terbatas hanya di sisi pengalaman serta perilaku informan, namun juga kegiatan maupun tindakan yang dikerjakan oleh informan. Contohnya adalah “berapa seringkah anda melakukan komunikasi dengan mahasiswa-mahasiswa asing yang anda ajar?”
  2. Pertanyaan pendapat, nilai, pendirian dan pikiran. Pertanyaan jenis tersebut memiliki tujuan guna membuka pendirian, pikiran, dan pendapat pihak informan terhadap peristiwa maupun kegiatan tertentu. Pada kondisi tersebut, pihak informan akan diarahkan guna menerangkan sejelas-jelasnya pandangan mereka beserta sejumlah nilai yang berkaitan dengan sebuah kegiatan maupun peristiwa tertentu. Contohnya adalah “dilihat secara umum, Faktor apa sajakah yang paling baik pada bahasa Inggris mereka?”
  3. Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan. Pertanyaan tersebut memiliki tujuan guna mengungkap Respon yang berkaitan dengan perasaan pihak informan akan pengalaman mereka. Contohnya adalah “apakah respon anda akan bahasa Inggris yang mereka miliki?”
  4. Pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan. Pertanyaan tersebut memiliki maksud guna mengetahui tanggapan akan pemahaman pihak informan. Contohnya adalah “Apakah anda memiliki kemampuan untuk menilai capaian akademis mahasiswa anda lewat bahasa Inggris yang mereka miliki?”
  5. Pertanyaan yang berkaitan dengan panca indra. Pertanyaan tersebut memiliki tujuan guna mengungkap tanggapan pancaindra dari pihak informan. Contohnya adalah “Pernahkah anda merasa tersinggung oleh sejumlah tindakan maupun perkataan mahasiswa Anda, dan mengapa terjadi demikian?”
  6. Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang kependudukan, misalnya adalah latar belakang ekonomi, lokasi tempat tinggal, Suku, pendidikan, usia dan lain sebagainya. Contohnya adalah “berasal dari manakah Anda?”

Demikianlah uraian tentang teknik wawancara dalam penelitian kualitatif yang bisa penulis Uraikan di kesempatan yang baik ini. Semoga saja, Bagi anda yang sekarang ini sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakan wawancara kualitatif bisa terbantu dan memperoleh referensi dari artikel ini. Terima kasih dan selamat beraktifitas.

Tentang Admin

Penulis merupakan seorang pengajar di SMK sekaligus mendalami segala macam aspek Tes Psikotes. Dengan kemampuan yang dimilikinya, penulis sering diundang pada tes seleksi siswa maupun pegawai dan karyawan baru sebagai seorang Tester pada sesi Tes Psikotes untuk mengetahui kondisi psikotes dari masing-masing peserta tes. Berbekal dari sejumlah pengalaman, menulis ingin mencoba berbagi beragam hal tentang Tes Psikotes lewat artikel pada blog ini.

Check Also

Tips Masuk Kerja Dan Wawancara Untuk Lulusan SMA Dan SMK

Baru Lulus SMK? Ikuti Tips Masuk Kerja Dan Wawancara Untuk Lulusan SMA Dan SMK

Bekerja merupakan sebuah aktivitas yang dikerjakan oleh manusia supaya bisa mendapatkan penghasilan. Bekerja yang dilakukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *