Aktivitas wawancara tentunya bisa dilaksanakan kapan saja dan dimana saja. Wawancara juga bisa dilakukan karena memiliki tujuan tertentu. Misalnya adalah untuk memenuhi tugas pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Apabila anda sekarang ini sedang membutuhkan sebuah contoh wawancara dengan pedagang cakwe dan bakso, mata anda berada pada artikel yang tepat, sebab pada kesempatan yang baik ini penulis akan mencoba untuk Sharing hasil wawancara dengan pedagang cakwe dan bakso tersebut.
Tentunya, wawancara yang dilakukan dengan pedagang cakwe dan bakso dilaksanakan dengan pihak wawancara adalah siswa di sebuah SMA negeri favorit. Sementara itu, penjual cakwe dan bakso tersebut sudah berjualan cukup lama di pasar sehingga mereka telah memiliki pengalaman pengalaman di dalam berjualan cakwe maupun bakso.
Contoh Wawancara Dengan Penjual Cakwe
Baiklah, bagian pertama yang akan penulis sharing adalah tentang contoh wawancara dengan penjual cakwe. Silakan disimak.
Pewawancara : Selamat siang, Permisi Bapak, mohon maaf mengganggu, Bolehkah saya minta waktunya sebentar?
Narasumber : Iya, tentu saja boleh, apakah ada yang dapat saya bantu?
Pewawancara : Jadi begini Bapak, Kami memperoleh tugas dari guru bahasa Indonesia kami guna mewawancarai pedagang sebagai narasumbernya. Apakah Bapak bersedia untuk saya wawancara?
Narasumber : tentu saja bersedia, silahkan saja
Pewawancara : mulai Kapankah Bapak membuka usaha menjual cakwe?
Narasumber : saya mulai berjualan cakwe sekitar tahun 2005
Pewawancara : di saat pertama kali Bapak berjualan, apakah Bapak langsung menetap di rumah atau berkeliling terlebih dahulu?
Narasumber : pertama berjualan, bapak langsung keliling terlebih dahulu. Biasanya, bapak langsung mangkal di sekolah-sekolah
Pewawancara : Apakah alasan mengapa bapak memilih untuk berjualan cakwe?
Narasumber : Alasan bapak untuk berjualan cakwe adalah dikarenakan kemampuan Bapak hanyalah memang sebatas berjualan cakwe saja
Pewawancara : berapakah besarnya modal pertama yang Bapak keluarkan untuk berjualan cakwe tersebut?
Narasumber : di saat itu, modal awal yang dikeluarkan Bapak sekitar Rp. 40.000. Modal tersebut digunakan untuk membuat bahan dengan berat 3 kg adonan cakwe
Pewawancara : Kalau boleh tahu, bahan-bahan apa sajakah yang diperlukan untuk membuat cakwe?
Narasumber : bahan untuk membuat cakwe yaitu terigu, bawang putih secukupnya, soda kue, garam, serta saus siap pakai yang sebelumnya telah dimasak terlebih dahulu
Pewawancara : dalam waktu sehari, bapak berjualan mulai dari jam berapa Dan pulang Sampai jam berapa?
Narasumber : Bapak mulai berjualan dari jam 09.00 sampai dengan jam 17.00, atau bahkan sampai jam 18.00
Pewawancara : dari pertama kali Bapak berjualan, apakah sudah langsung menggunakan gerobak atau dipikul terlebih dahulu baru berikutnya memakai gerobak ?
Narasumber : pas pertama berjualan, bapak menggunakan pikulan.Namanya hampir sekitar 1 tahun. Berikutnya, disebabkan karena bapak sudah tidak kuat lagi, maka Akhirnya Bapak memilih untuk memakai gerobak
Pewawancara : setelah Bapak beralih memakai gerobak, dagangan yang Bapak jual lebih bervariasi atau tidak?
Narasumber : Iya, dagangan Bapak bertambah otak-otak dan cimol
Pewawancara : setelah Bapak menambah jumlah dagangannya, berapakah modal yang Bapak keluarkan untuk setiap harinya
Narasumber : modal untuk setiap harinya berkisar Rp. 130.000
Pewawancara : dengan bermodalkan Rp. 130.000, berapakah masing-masing bahan yang dapat bapak buat? Berapa KG kah?
Narasumber : cimol seberat 2 kg, cakwe seberat 3 kg, otak-otak sebanyak 10 bungkus, serta minyak goreng seberat 1,5 kg
Pewawancara : setiap harinya, berapakah penghasilan rata-rata yang Bapak dapatkan?
Narasumber : penghasilan setiap harinya berkisar Rp. 200.000 serta memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp. 70.000
Pewawancara : jika dalam sehari terdapat adonan yang tidak habis di jual, Bagaimanakah perlakuan terhadap adonan tersebut? Diolah lagi atau dibuang?
Narasumber : jika kondisi adonan tersebut masih bagus maka akan disimpan di kulkas. Namun apabila adonan tersebut sudah melembung maka akan dibuang
Pewawancara : dari sisi minyak goreng, pada pemakaiannya Bapak menggunakan berapa kali?
Narasumber : minyak goreng tersebut digunakan selama 3 kali, setelah itu maka akan diganti dengan yang baru lagi.
Pewawancara : Usaha berjualan Bapak ini, bapak Kerjakan sendiri atau bapak membuka usaha juga di rumah?
Narasumber : Bapak jalankan secara mandiri dan sendiri
Pewawancara : Mungkin, saya kira sudah cukup banyak informasi yang saya peroleh dari bapak mengenai usaha jualan cakwe Bapak. Saya ucapkan terima kasih banyak atas waktu yang sudah Bapak berikan kepada saya, semoga usaha jualan bapak bisa semakin maju.
Narasumber : Iya sama-sama, terima kasih juga
Contoh Wawancara Dengan Penjual Bakso
Pewawancara : Selamat pagi Bapak, Bolehkah saya meminta waktu sebentar?
Penjual bakso : iya silakan, apakah yang bisa Bapak bantu?
Pewawancara : Bolehkah saya wawancara dengan bapak sebentar?
Penjual bakso : Tentu saja boleh, silakan
Pewawancara : Bapak sudah berjualan bakso berapa lama?
Penjual bakso : Bapak berjualan bakso sudah 5 tahunan
Pewawancara : Biasanya, siapa sajakah yang membeli bakso buatan bapak?
Penjual bakso : secara umum, yang membeli bakso buatan Bapak yaitu orang yang baru pulang dari kantor atau warga sekitar sini
Pewawancara : Bapak berjualan bakso itu sendiri dengan cara menetap atau berkeliling?
Penjual bakso : dulu, bapak berjualan bakso dengan metode berkeliling. Namun, setelah menginjak 2 tahun, bapak bisa mendirikan sebuah ruko untuk digunakan berjualan bakso
Pewawancara : Apa alasan Bapak memilih untuk berjualan bakso?
Penjual bakso : alasannya adalah disebabkan bakso sangat digemari oleh banyak kalangan
Pewawancara : bahan apa sajakah yang Bapak pakai di dalam membuat bakso?
Penjual bakso : bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat bakso diantaranya adalah tepung kanji, garam, daging sapi serta bumbu khas Prajekan saya. Dari sisi isinya, bisa polos, bisa urat dan juga telur.
Pewawancara : Apa sajakah menu-menu yang Bapak hidangkan?
Penjual bakso : bakso urat, bakso telor, bakso biasa serta menu spesial berupa bakso urat super besar.Selain itu ada juga beberapa jenis minuman
Pewawancara : untuk satu porsinya, berapa harganya?
Penjual bakso : untuk satu porsi bakso telur harganya Rp. 14.000, bakso urat biasa harganya Rp. 17.000, bakso urat super besar harganya Rp. 19.000, serta bakso biasa harganya Rp. 12.000
Pewawancara : berapa keuntungan yang Bapak peroleh dari hasil penjualan bakso dalam waktu 1 bulan?
Penjual bakso : keuntungan yang Bapak peroleh dalam waktu 1 bulan sekitar Rp. 5.500.000
Pewawancara : Apa sajakah yang memotivasi bapak untuk menjual bakso?
Penjual bakso : tentunya bertujuan supaya bisa menjadi pedagang bakso yang maju dan sejahtera
Pewawancara : mungkin Sudah cukup wawancara untuk kali ini. Terima kasih banyakbatas waktu yang Bapak berikan. Semoga saja, usaha bakso Bapak semakin laris dan maju.
Penjual bakso : iya sama-sama, Terima kasih juga
Demikianlah Uraian singkat tentang contoh wawancara dengan pedagang cakwe dan bakso yang bisa saya ulas Pada kesempatan kali ini. Walaupun secara umum memiliki visi yang sama, ke dua contoh wawancara dengan pedagang di atas tentunya memiliki makna yang berbeda. Diharapkan, kedua contoh wawancara di atas bisa menjadi bahan referensi dan rujukan untuk belajar sekaligus dapat pula dijadikan sebagai suatu renungan untuk membuka sebuah usaha atau bisnis.Terima kasih dan selamat beraktifitas.